Vape: Alternatif Rokok Tembakau atau Trend Rokok Masa Kini | FOOM Lab Global Vape: Alternatif Rokok Tembakau atau Trend Rokok Masa Kini – FOOM Lab Global

Vape: Alternatif Rokok Tembakau atau Trend Rokok Masa Kini

Bentuk Rokok Elektrik
Rokok elektrik (e-cigarettes) bukan barang baru di Indonesia dan lebih dikenal dengan sebutan vape. Benda ini sudah lama diperbincangkan beberapa tahun belakang. Vape merupakan perangkat yang dioperasikan dengan baterai untuk memompa nikotin atau aerosol e-liquid psikoaktif lainnya tanpa perlu adanya pembakaran tembakau. Rokok elektrik ini terkenal juga dengan berbagai nama, seperti “e-cigs”, “vapes”, “mods”, “tank systems”, “e-hookahs”, “vape pens”, dan “electronic nicotine delivery systems (ENDS). Penggunaan rokok elektrik disebut dengan vaping. Evolusi perangkat vaping hadir dalam berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang dibuat agar terlihat seperti rokok biasa, cerutu, atau pipa. Bahkan ada yang dibentuk menyerupai pena, stik Universal Serial Bus (USB), dan barang sehari-hari lainnya. 
Barang ini semakin populer berkat strategi pemasaran yang sangat aktif dan masif. Klaim awal vape adalah sebagai alternatif rokok yang lebih aman dari rokok konvensional atau rokok tembakau. Klaim ini telah memikat pengguna dengan pemikiran bahwa rokok elektrik memiliki efek pernapasan yang kurang berbahaya daripada konsumsi rokok tembakau. Vape juga telah digaungkan sebagai salah satu alat untuk terapi berhenti merokok. Pemasaran vape yang agresif telah menyebabkan meningkatnya pengguna vape dari kalangan remaja sampai dewasa muda selama beberapa tahun terakhir. Alat yang kecil, lebih murah, dapat diisi ulang, dengan beragam rasa dan kekinian adalah daya tarik tersendiri dari rokok elektrik ini. Vape menjelma menjadi suatu gaya hidup dan kultur baru di tengah masyarakat. Bujuk rayu “less harmfull” yang digaungkan membuatnya kian akrab menjadi trend rokok masa kini. Alih-alih menjadi alternatif rokok tembakau, vape telah menjadi candu bagi banyak orang terutama kaum remaja dan dewasa muda.

Apakah Klaim “Less Harmfull” Penggunaan Vape dapat Dibenarkan? 
Keamanan konsumsi vape sebagai metode untuk berhenti merokok masih kontroversial dan sampai saat ini masih terbatas bukti-bukti ilmiah yang mendukung pernyataan tersebut. Nikotin dalam vape terbukti meningkatkan kadar nitrit oksida (NO) yang dihembuskan oleh pemakainya sehingga memicu peradangan saluran pernapasan. Selain itu, nikotin merupakan zat yang sangat adiktif dan memiliki aktivitas biologis yang signifikan dalam mempengaruhi sistem kardiovaskular, pernapasan, imunologi, dan reproduksi. 
Vape biasanya mengandung humektan dan perasa, dengan atau tanpa nikotin yang diuapkan oleh alat penyemprot. Aerosol yang dihasilkan akan memberikan sensasi yang mirip dengan rokok tembakau. Humektan terdiri atas propanediol dan gliserol yang jika mencapai konsentrasi cukup tinggi berpotensi menyebabkan iritasi saluran pernapasan. Senyawa lain yang terdeteksi dalam aerosol adalah acetamide, suatu zat yang bersifat karsinogenik. Penggunaan vape juga berpotensi menyebabkan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Akhir-akhir ini, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan adanya EVALI (e-cigarette or vaping, product use associated lung injury) yang merupakan penyakit paru akibat konsumsi vape yang setidaknya dikonsumsi selama 90 hari. CDC menyatakan bahwa jenis penyakit baru ini berhubungan dengan merebaknya kasus infeksi paru berbahaya dan terdapat kesamaan pola antar pasien yaitu mengonsumsi vape. Penyebab utama EVALI diperkirakan karena vitamin E asetat (zat tambahan beberapa produk vape) yang mengandung tetrahydrocannabinol (THC) yang masuk ke tubuh saat penggunaan vape. Komplikasi EVALI antara lain: acute respiratory distress syndrome, gagal napas, kebutuhan intubasi dan ventilasi mekanis, bahkan kematian.
Beberapa tahun belakangan ini penggunaan vape terus meningkat. Peningkatan ini juga diikuti dengan meningkatnya laporan penyakit paru terkait vaping. Hal ini berpotensi menimbulkan masalah kesehatan masyarakat yang baru. Dengan bukti adanya EVALI, maka menjadi kewajiban seluruh masyarakat untuk memahami dan menyebarluaskan bahwa vaping tidak boleh dianggap lebih aman daripada rokok konvensional. Masih ada bahaya yang mungkin terjadi dan penelitian masih terus berlangsung untuk menguraikan hubungan antara penggunaan rokok elektrik ini dengan kerusakan paru-paru ataupun masalah kesehatan lainnya. 
“Sedahsyat apapun klaim aman yang digaungkan dan sememikat apapun pemasaran yang ditawarkan, bahaya nikotin yang terkandung di dalamnya tidak kemudian hilang”.
Jika bisa memilih untuk tidak merokok, mengapa harus merokok? Jangan ragu berkonsultasi terhadap masalah kesehatan Anda dan merasa Anda mengalami adiksi rokok, jangan ragu untuk hubungi dokter spesialis paru kami untuk berkonsultasi.
Artikel dipublikasikan juga pada Buletin Bicara Sehat Edisi 3, yang dapat di akses melalui (KLIK)


Referensi:

  1. Health CO on S and. Smoking and Tobacco Use; Electronic Cigarettes [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2021 [cited 2022 May 18]. Available from: https://www.cdc.gov/tobacco/basic_information/e-cigarettes/severe-lung-disease.html
  2. Oriakhi M. Vaping: An Emerging Health Hazard. Cureus [Internet]. 2020 Mar 26 [cited 2022 May 18]; Available from: https://www.cureus.com/articles/27686-vaping-an-emerging-health-hazard
  3. Yingst JM, Foulds J, Veldheer S, Hrabovsky S, Trushin N, Eissenberg TT, et al. Nicotine absorption during electronic cigarette use among regular users. Cummings M, editor. PLOS ONE. 2019 Jul 25;14(7):e0220300. 
  4. Mishra A, Chaturvedi P, Datta S, Sinukumar S, Joshi P, Garg A. Harmful effects of nicotine. Indian J Med Paediatr Oncol. 2015 Jan;36(01):24–31. 
  5. Kienhuis AS, Soeteman-Hernandez LG, Bos PM, Cremers HW, Klerx WN, Talhout R. Potential harmful health effects of inhaling nicotine-free shisha-pen vapor: a chemical risk assessment of the main components propylene glycol and glycerol. Tob Induc Dis. 2015 Dec;13(1):15. 
  6. Hutzler C, Paschke M, Kruschinski S, Henkler F, Hahn J, Luch A. Chemical hazards present in liquids and vapors of electronic cigarettes. Arch Toxicol. 2014 Jul;88(7):1295–308. 
  7. Pisinger C, Døssing M. A systematic review of health effects of electronic cigarettes. Prev Med. 2014 Dec;69:248–60. 
  8. Zulfiqar H, Rahman O. Vaping Associated Pulmonary Injury [Internet]. StatPearls [Internet]. StatPearls Publishing; 2022 [cited 2022 May 18]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK560656/

Vape: Alternatif Rokok Tembakau atau Trend Rokok Masa Kini

Bentuk Rokok Elektrik
Rokok elektrik (e-cigarettes) bukan barang baru di Indonesia dan lebih dikenal dengan sebutan vape. Benda ini sudah lama diperbincangkan beberapa tahun belakang. Vape merupakan perangkat yang dioperasikan dengan baterai untuk memompa nikotin atau aerosol e-liquid psikoaktif lainnya tanpa perlu adanya pembakaran tembakau. Rokok elektrik ini terkenal juga dengan berbagai nama, seperti “e-cigs”, “vapes”, “mods”, “tank systems”, “e-hookahs”, “vape pens”, dan “electronic nicotine delivery systems (ENDS). Penggunaan rokok elektrik disebut dengan vaping. Evolusi perangkat vaping hadir dalam berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang dibuat agar terlihat seperti rokok biasa, cerutu, atau pipa. Bahkan ada yang dibentuk menyerupai pena, stik Universal Serial Bus (USB), dan barang sehari-hari lainnya. 
Barang ini semakin populer berkat strategi pemasaran yang sangat aktif dan masif. Klaim awal vape adalah sebagai alternatif rokok yang lebih aman dari rokok konvensional atau rokok tembakau. Klaim ini telah memikat pengguna dengan pemikiran bahwa rokok elektrik memiliki efek pernapasan yang kurang berbahaya daripada konsumsi rokok tembakau. Vape juga telah digaungkan sebagai salah satu alat untuk terapi berhenti merokok. Pemasaran vape yang agresif telah menyebabkan meningkatnya pengguna vape dari kalangan remaja sampai dewasa muda selama beberapa tahun terakhir. Alat yang kecil, lebih murah, dapat diisi ulang, dengan beragam rasa dan kekinian adalah daya tarik tersendiri dari rokok elektrik ini. Vape menjelma menjadi suatu gaya hidup dan kultur baru di tengah masyarakat. Bujuk rayu “less harmfull” yang digaungkan membuatnya kian akrab menjadi trend rokok masa kini. Alih-alih menjadi alternatif rokok tembakau, vape telah menjadi candu bagi banyak orang terutama kaum remaja dan dewasa muda.

Apakah Klaim “Less Harmfull” Penggunaan Vape dapat Dibenarkan? 
Keamanan konsumsi vape sebagai metode untuk berhenti merokok masih kontroversial dan sampai saat ini masih terbatas bukti-bukti ilmiah yang mendukung pernyataan tersebut. Nikotin dalam vape terbukti meningkatkan kadar nitrit oksida (NO) yang dihembuskan oleh pemakainya sehingga memicu peradangan saluran pernapasan. Selain itu, nikotin merupakan zat yang sangat adiktif dan memiliki aktivitas biologis yang signifikan dalam mempengaruhi sistem kardiovaskular, pernapasan, imunologi, dan reproduksi. 
Vape biasanya mengandung humektan dan perasa, dengan atau tanpa nikotin yang diuapkan oleh alat penyemprot. Aerosol yang dihasilkan akan memberikan sensasi yang mirip dengan rokok tembakau. Humektan terdiri atas propanediol dan gliserol yang jika mencapai konsentrasi cukup tinggi berpotensi menyebabkan iritasi saluran pernapasan. Senyawa lain yang terdeteksi dalam aerosol adalah acetamide, suatu zat yang bersifat karsinogenik. Penggunaan vape juga berpotensi menyebabkan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Akhir-akhir ini, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan adanya EVALI (e-cigarette or vaping, product use associated lung injury) yang merupakan penyakit paru akibat konsumsi vape yang setidaknya dikonsumsi selama 90 hari. CDC menyatakan bahwa jenis penyakit baru ini berhubungan dengan merebaknya kasus infeksi paru berbahaya dan terdapat kesamaan pola antar pasien yaitu mengonsumsi vape. Penyebab utama EVALI diperkirakan karena vitamin E asetat (zat tambahan beberapa produk vape) yang mengandung tetrahydrocannabinol (THC) yang masuk ke tubuh saat penggunaan vape. Komplikasi EVALI antara lain: acute respiratory distress syndrome, gagal napas, kebutuhan intubasi dan ventilasi mekanis, bahkan kematian.
Beberapa tahun belakangan ini penggunaan vape terus meningkat. Peningkatan ini juga diikuti dengan meningkatnya laporan penyakit paru terkait vaping. Hal ini berpotensi menimbulkan masalah kesehatan masyarakat yang baru. Dengan bukti adanya EVALI, maka menjadi kewajiban seluruh masyarakat untuk memahami dan menyebarluaskan bahwa vaping tidak boleh dianggap lebih aman daripada rokok konvensional. Masih ada bahaya yang mungkin terjadi dan penelitian masih terus berlangsung untuk menguraikan hubungan antara penggunaan rokok elektrik ini dengan kerusakan paru-paru ataupun masalah kesehatan lainnya. 
“Sedahsyat apapun klaim aman yang digaungkan dan sememikat apapun pemasaran yang ditawarkan, bahaya nikotin yang terkandung di dalamnya tidak kemudian hilang”.
Jika bisa memilih untuk tidak merokok, mengapa harus merokok? Jangan ragu berkonsultasi terhadap masalah kesehatan Anda dan merasa Anda mengalami adiksi rokok, jangan ragu untuk hubungi dokter spesialis paru kami untuk berkonsultasi.
Artikel dipublikasikan juga pada Buletin Bicara Sehat Edisi 3, yang dapat di akses melalui (KLIK)


Referensi:

  1. Health CO on S and. Smoking and Tobacco Use; Electronic Cigarettes [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2021 [cited 2022 May 18]. Available from: https://www.cdc.gov/tobacco/basic_information/e-cigarettes/severe-lung-disease.html
  2. Oriakhi M. Vaping: An Emerging Health Hazard. Cureus [Internet]. 2020 Mar 26 [cited 2022 May 18]; Available from: https://www.cureus.com/articles/27686-vaping-an-emerging-health-hazard
  3. Yingst JM, Foulds J, Veldheer S, Hrabovsky S, Trushin N, Eissenberg TT, et al. Nicotine absorption during electronic cigarette use among regular users. Cummings M, editor. PLOS ONE. 2019 Jul 25;14(7):e0220300. 
  4. Mishra A, Chaturvedi P, Datta S, Sinukumar S, Joshi P, Garg A. Harmful effects of nicotine. Indian J Med Paediatr Oncol. 2015 Jan;36(01):24–31. 
  5. Kienhuis AS, Soeteman-Hernandez LG, Bos PM, Cremers HW, Klerx WN, Talhout R. Potential harmful health effects of inhaling nicotine-free shisha-pen vapor: a chemical risk assessment of the main components propylene glycol and glycerol. Tob Induc Dis. 2015 Dec;13(1):15. 
  6. Hutzler C, Paschke M, Kruschinski S, Henkler F, Hahn J, Luch A. Chemical hazards present in liquids and vapors of electronic cigarettes. Arch Toxicol. 2014 Jul;88(7):1295–308. 
  7. Pisinger C, Døssing M. A systematic review of health effects of electronic cigarettes. Prev Med. 2014 Dec;69:248–60. 
  8. Zulfiqar H, Rahman O. Vaping Associated Pulmonary Injury [Internet]. StatPearls [Internet]. StatPearls Publishing; 2022 [cited 2022 May 18]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK560656/
the importance of social proof

Net Orders Checkout

Item Price Qty Total
Subtotal 0
Shipping
Total

Shipping Address

Shipping Methods